Peran dan Permasalahan Pengalaman Indrawi

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

1.jutt1Pada abad-17 adalah abad pertengahan yang khas pemikiran filsafatnya pada saat itu diwarnai dengan Rasionalis. Diantara filosof-filosof yang paling berpengaruh pada abad ini adalah Descartes yang berasal dari Prancis, Spinoza yang berasal dari Belanda, dan Leibniz yang berasal dari Jerman. Mereka bertiga ini adalah tokoh rasionalis yang percaya bahwa manusia itu mempunyai gagasan-gagasan bawaan tertentu dalam pikiran yang mendahului seluruh pengalaman. Maka semakin jelas gagasannya, semakin pasti bahwa mereka berkaitan dengan realitas.

Namun pada abad-18, rasionalisme ini dikritik oleh sejumlah filosof yang berpendapat bahwa pikiran kita itu sama sekali tidak memiliki ingatan akan apa-apa yang belum pernah kita alami melalui indra. Pandangan semacam ini disebut dengan pandangan empirisme.

Rumusan klasik pendekatan empiris berasal dari Aristoteles, “ tidak ada sesuatu dalam pikiran kecuali yang sebelumnya telah dicerap oleh indera.’ Pandangan Aristoteles mengecam Plato tentang ide-ide bawaan dari dunia ide. Locke mengulang kata-kata Aristoteles yang ditujukan kepada Descartes. Nah, diantara tokoh-tokoh filosof (empiris) yang paling berpengalaman adalah Locke, Barkeley dan Hume yang ketiganya berasal dari Inggris.

Barkeley juga adalah salah satu tokoh dari kaum sophis modern, kaum sophis muncul dengan mengatakan bahwa seungguhnya objek yang kita indra itu hanyalah merupakan tampakan dalam pikiran kita. Barkeley menyatakan bahwa objek itu ada ketika kita mempersepsinya lewat pengindraan, namun objek itu tetaplah ada meski kita tidak sedang mengindranya (tidak ada di hadapan kita). Karena yang menyebabkan objek itu tetap ada adalah pikiran Tuhan. Pemikiran Barkeley hampir sama dengan Leibniz yang juga sesama kaum sophis yang menyatakan bahwa materi adalah sekumpulan jiwa yang belum sempurna. Kaum sophis modern menyatakan bahwa objek itu tidak ada (exist), karena pikiran kitalah yang membuat objek itu ada. Tokoh sophis zaman klasik yaitu Phyrro  menyatakan bahwa indra itu banyak melakukan kesalahan. Satu kesalahan indra maka menjadi landasan untuk menggugurkan semua indra.

Namun pemikiran ini disanggah oleh Russell, yakni tokoh dari aliran realism. Menurut kaum realis objek itu ada (sebaliknya dari kaum sophis). Russell mengungkapkan bahwa “ Meja sejati itu benar-benar realitas diluar yang independent dari persepsi”.

Nah, maka dari sini muncullah banyak pertanyaan mengapa pemikiran mereka mengenai objek itu berbeda satu sama lain? Padahal mereka sama-sama menekankan bahwa pengetahuan itu didapatkan melalui pengindraan terhadap objek diluar diri. Sebenarnya bagaimanakah peran indra itu sendiri? apakah ia memang benar-benar satu-satunya sumber pengetahuan untuk manusia? Apakah indra memiliki kelemahan yang padahal banyak tokoh empiris maupun realis sangat mengutamakan pengalaman indra untuk mendapatkan pengetahuan? Apakah indra itu independent sebagai sumber pengetahuan dan tidak membutuhkan kepada instrument pengetahuan yang lain? Apakah yang terindra oleh kita itu memang benar-benar realitas sesungguhnya?

Nah, pertanyaan-pertanyaan inilah yang akan kita coba kaji di dalam makalah ini untuk mendapatkan jawabannya. Meskipun pemaparan mengenai peran dan permasalahan pengalaman indra disini hanyalah berupa pemaparan singkat saja. Namun sedikitnya diharapkan kita dapat menemukan titik temu dari pertanyaan-pertanyaan tadi.

2. Tujuan

Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk memahami mengenai peranan indra sebagai salah satu instrument untuk mendapatkan pengetahuan. Selain itu juga diharapkan kita dapat mengetahui permasalahan-permasalahan indra yang menimbulkan banyak perbedaan pikiran para filosof empiris satu sama lain dalam menemukan kebenaran sebenarnya. Sehingga kita dapat menganalisis lebih jauh lagi mengenai realitas-realitas objek yang selama ini kita indra. Makalah ini juga mencoba menjelaskan mengenai peran dan permasalahan pengalaman indra secara ilmiah sesuai dengan rujukan referensi yang diberikan oleh dosen kami di mata kuliah epistemology ini. kami menyadari betul akan kekurangan-kekurangan dalam makalah ini. namun diharapkan makalah ini bisa memberikan sedikit gambaran mengenai peran dan permasalahan indra sebenarnya.

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Pengalaman Indrawi
  2. Pengalaman indrawi

Pengalaman indra merupakan sumber pengetahuan yang berupa alat-alat untuk mengungkap objek dari luar diri manusia melalui kekuatan indra. Pengetahuan Inderawi dimiliki manusia melalui kemampuan indera. Kemampuan itu diperoleh manusia sebagai mahluk biotic. Akan tetapi tidak selalu dimiliki oleh karena ia mahluk biotic, sebab tanaman, misalnya bunga dan pohon tidak memilikinya. Tetapi karena ia juga mengandung taraf psikis, seperti pula binatang, maka ia mempunyai indera biologis itu. Berkat inderanya ia mengatasi taraf hubungan yang semata-mata fisik-vital dan masuk ke dalam medan intensional, walaupun masih sangat sederhana. Indera menghubungkan manusia dengan hal-hal konkret material dalam ketunggalannya, entah real atau semu.

Akan tetapi pengetahuan inderawi bersifat parsial. Itu disebabkan oleh adanya perbedaan antara indera yang satu dengan yang lainnya, berhubungan dengan sifat khas fisiologis indera, dan dengan objek yang dapat ditangkap sesuai dengannya. Masing-masing indera menangkap aspek yang berbeda mengenai barang atau mahluk yang menjadi objek, yaitu bunyi, atau cerah, atau bentuk dengan keras-lunaknya, atau rasa, atau bau. Pengetahuan inderawi berbeda menurut perbedaan indera dan terbatas pada sensibilitas organ-organ tertentu. Pendengaran hanya mampu menangkap suara, dan hanya pada batas-batas frekuensi tertentu sesuai dengan kepekaan indera masing-masing orang. Mata peka terhadap cahaya, dan tidak mampu menangkap bau yang merupakan tugas indera penciuman dan begitu juga dengan semua indera lainnya. Pengetahuan indera hanya terletak pada permukaan kenyataaan, karena terbatas pada hal-hal inderawi secara individual, dan hanya dilihat dari segi tertentu saja. Oleh karena itu secara objektif pengetahuan yang ditangkap oleh satu indera saja tidak dapat dipandang sebagai pengetahun yang utuh. Ibarat pengetahuan beberapa orang buta yang berpendapat tentang bentuk seekor gajah, karena mereka hanya mengandalkan indera peraba semata-mata. Namun pengetahuan inderawi sangat penting, karena ia bertindak selaku pintu gerbang pertama untuk menuju pengetahuan yang lebih utuh.[1]

  1. Karakteristik Pengalaman Indrawi dan Fungsi Indra

Ciri-ciri pokok pengalaman indrawi  adalah sebagai berikut :

  1. Pengalaman inderawi selalu berhubungan dengan objek tertentu di luar si pengamat (subjek). Hubungannya bisa dalam bentuk : melihat, mendengar, meraba, mencium, dan merasa. Atau objeknya berbentuk benda-benda fisis : orang, hewan, tumbuhan, ide/gagasan.
  2. Pengalaman manusia tidak seragam (panca indera) dan sebagai hasilnya kita dapat berpikir, menilai, membandingkan, memutuskan, sedih, gembira, dll. Positivism ekstrem cenderung membatasi dunia ilmiah hanya pada pengalaman yang berkaitan dengan objek-objek yang terukur (res extensa) dan memasukkan pengalaman yang tidak terukur sebagai subjektif, karenanya tidak masuk dunia ilmiah.
  3. Pengetahuan manusia terus berkembang, baik karena pertumbuhan umur, pendidikan/lingkungan, perkembangan pengetahuan/teknologi, dll. Missal, pengetahuan mikroskop, teleskop sehingga menembus pemahaman tentang atom, bintang-bintang, DNA, dll.[2]

Sedangkan menurut Murtadha Muthahhari[3] karakteristik pengetahuan indrawi adalah :

1. particular dan satu persatu, dapat dikatakan bahwa pengetahuan indrawi, yang menurut istilah disebut individualis, sifatnya adalah perorangan, satu persatu dan berhubungan dengan tiap-tiap sesuatu.

2. pengetahuan indrawi itu lahiriah, tidak dalam, hanya menyaksikan segala yang sifatnya lahiriah (material), sehingga tidak sampai mampu mengetahui esensi (mahiyah) segala benda itu, dan juga mengetahui hubungan bathiniah antara berbagai benda itu.

3. pengetahuan indrawi itu bersifat sekarang. Yakni berhubungan dengan waktu sekarang. Bukan dengan lampau atau akan datang. Karena dengan indra itu manusia hanya mampu merasakan segala sesuatu yang ada pada saat sekarang ini.

4. pengetahuan indrawi adalah jenis pengetahuan yang berhubungan dengan kawasan (lingkungan) tertentu. Yakni terbatas pada suatu kawasan tertentu.

Di sisi lain, indra sendiri memiliki beberapa fungsi dalam kehidupan manusia. Fungsi indera diantaranya adalah :

  1. Unsure kognitif (sebagai unsure ilmu)
  2. Instrument kelangsungan hidup (survival) manusia.

–          Mendapatkan sesuatu, seperti minum, makan, seks, dll.

–          Menghindarkan dari bahaya, misalnya menghindar dari panas api.

  1. Kelemahan-kelemahan Pengalaman Indrawi

Panca indera itu bukan saja sangat terbatas, tetapi bahkan bisa menyesatkan. Sebatang tongkat yang sebenarnya lurus akan kelihatan bengkok bila sebagian terendam di air. Bila kita naik kendaraan yang melaju dengan kencang, maka tampak pohon-pohon berlarian. Juga halnya dengan bumi yang sebenarnya mengelilingi matahari tapi seolah-olah justru dikelilingi matahari, sampai-sampai pernah membawa pada kesimpulan yang salah mengenai perputaran planit-planit. Lebih jelasnya, kelemahan-kelemahan indra[4] adalah sebagai berikut :

  1. Indera terbatas. Benda yang jauh keliatan kecil. Apakah memang benda itu kecil? Bukan berarti seperti itu. Karena keterbatasan kemampuan indera ini dapat melaporkan objek tidak sebagaimana adanya, dan dari sini akan terbentuk pengetahuan yang salah.
  2. Indera menipu. Pada orang yang sakit malaria gula rasanya pahit, udara yang panas dirasakan dingin. Ini juga menimbulkan pengetahuan yang salah.
  3. Objek yang menipu, contohnya ilusi, fatamorgana. Jadi objek itu sebenarnya tidak sebagaimana ia ditangkap oleh alat indera, karena ia membohongi indera. Maka ini juga adalah pengetahuan yang salah.
  4. Kelemahan berasal dari indera dan objek sekaligus. Dalam hal ini indera (di sini mata) tidak mampu melihat seekor kerbau secara keseluruhan, dan kerbau itu juga tidak dapat memperlihatkan badannya secara keseluruhan. Jika kita melihatnya dari depan, yang kelihatan adalah kepalanya dan kerbau pada saat itu memang tidak mampu sekaligus memperlihatkan ekornya.

indera memiliki kelemahan-kelemahan, misalnya mata sering berbuat keliru sehingga mengambil salah informasi. Misalnya bintang yang besar dilaporkan kecil, dan telinga hanya dapat menerjemahkan  dalam frekuensi tertentu antara 400-700 nanometer. Lebih dari itu mata kita tidak bisa melihat lagi. Demikian juga telinga yang hanya bisa mencerap gelombang antara 20.000 kilohertz/detik) dan tidak lebih dari itu. Dan keterbatasannya yang paling nyata adalah ketidakmampuannya untuk mencerap entitas-entitas nonfisik. Itu lah mengapa kita membutuhkan alat lain, yakni akal. Charles Darwin mengatakan bahwa tanpa penafsiran yang sungguh-sungguh, maka alam akan mendustai kita bila dia mampu.

d. Hakikat Pengetahuan Indrawi

Alexis Carrel (1987) mengatakan bahwa pengetahuan indrawi itu bersifat relasional. Daya indra menghubungkan manusia dengan hal-hal konkret-material dalam ketungggalannya, entah nyata entah semu. Selain itu sifatnya parsial, karena aada pembedaan antara indra satu dengan indra yang lainnya.

Pengetahuan indrawi menjadi berbeda-beda menurut perbedaan indra dan terbatas pada sensibilitas organ-organ indra tertentu. Pengetahuan indrawi hanya terletak pada permukaan kenyataan karena terbatas pada hal-hal indrawi secara individual, dan dilihat hanya dari segi tertentu saja. Sifatnya deterministic, karena penampakan yang tidak lengkap dari kenyataan.

Melalui akallah, kita dapat menyempurnakan pengetahuan kita. Akal memiliki perangkat-perangkat/ konstruksi-konstruksi mental. Perangkat-perangkat akal menurut Kant diantaranya adalah relasi, kategori, ruang, waktu, substansi, Kausalitas, Kuantitas. Semua peramgkat ini mampu menangkap kuiditas/esensi (mahiyyah) dari sesuatu yang diamati. Yakni, dengan mengetahui konsep universal dari sebuah objek yang diamati lewat indra yang bersifat abstrak dan tidak lagi berhubungan dengan data-data partikular.

Menurut Bergson akal sangat kompeten dalam menganalisis ruang, tetapi tidak tentang waktu. Waktu akan dapat dipahami oleh intuisi. Akal sangat kompeten untuk memahami pengalaman fenomenal, tetapi tidak untuk pengalaman eksistensial.

2. Tokoh-tokoh Empirisme

1. John Locke

John Locke (1632-1704), ia membuat sebuah Esai tentang Pemahaman Manusia (Essay Concerning Human Understanding) yang diterbitkan pada 1690. Dia menjelaskan tentang dua masalah : yang pertama adalah mengenai ‘Darimana kita mendapat gagasan-gagasan kita?’ dan yang kedua adalah ‘Apakah kita dapat mempercayai apa yang telah dikatakan indra-indra kita?’

Menurut Locke, semua pikiran dan gagasan kita berasal dari sesuatu yang telah kita dapatkan melalui indra. Sebelum kita merasakan sesuatu, pikiran kita merupakan tabula rasa-atau merupakan kertas kosong. Namun pikiran disini tidak hanya bersikap pasif menerima informasi dari luar. Beberapa aktivitas berlangsung di dalam pikiran pula. Gagasan-gagasan dari Indra itu diolah dengan cara berpikir, bernalar, memercayai dan meragukan, dan dengan demikian menimbulkan apa yang dinamakannya perenungan. Jadi, ia membedakan antara pengindraan dan perenungan. Pikiran itu sendiri tidak bertindak pasif,karena ia menggolong-golongkan dan memproses semua perasaan yang mengalir masuk.

Locke menekankan bahwa satu-satunya yang dapat kita tangkap adalah Pengindraan Sederhana. Misal ketika kita makan apel, kita tidak merasakan seluruh apel itu dalam satu pengindraan saja. Jadi kita itu sebenarnya menerima serangkaian pengindraan sederhana. Seperti bahwa apel itu adalah benda berwarna hijau yang baunya segar, dan rasanya berair dan tajam. Setelah makan berkali-kali barulah kita bisa berpikir “ kini aku sedang makan sebuah apel.” Sedikit demi sedikit kita mengumpulkan banyak rasa serupa bersama-sama dan menyusun konsep-konsep seperti pir, apel, jeruk. Semua pengetahuan tentang dunia kita dapatkan melalui pengindraan. Oleh karena itu, pengetahuan yang tidak dapat dilacak kembali pada pengindraan sederhana adalah pengetahuan yang keliru dan akibatnya harus ditolak.

Locke membedakan dua kualitas, yaitu ada kualitas primer dan sekunder. Kualitas primer itu meliputi luas, berat, gerakan, jumlah,dst.dalam arti kualitas-kualitas ini sejati pada bendanya (bersifat objektif). Sedangkan kualitas sekunder itu meliputi warna, bau, rasa, suara,dst. Dalam arti kualitas ini tidak meniru kualitas-kualitas sejati pasda benda. Jadi kualitas ini bergantung pada pengindraan individu.

Pada masalah realitas yang diperluas, Locke setuju dengan Descartes bahwa realitas itu tidak mempunyai kualitas-kualitas tertentu yang mungkin dipahami manusia dengan akalnya. Locke mengakui apa yang dinamakan pengetahuan intuitif dan demonstrative. Misalnya, dia berpendapat bahwa prinsip-prinsip etika tertentu berlaku untuk semua orang. Dia percaya pada gagasan mengenai hak alamiah (cirri rasionalis dari pemikirannya). Dan Locke percaya bahwa akal manusia mampyu mengetahui bahwa Tuhan itu ada. Dia berbicara seperti itu atas dorongan kebebasan intelektual dan toleransinya. Locke adalah pelopor banyak gagasan liberal yang dikemudian hari, pada periode pencerahan Prancis di abad-18, berkembang penuh. Dia pertama-tama mendukung prinsip Pembagian kekuasaan. Menurut Locke, untuk mejamin berdirinya Negara hukum, para wakil rakyat harus menciptakan UU dan Raja/ Pemerintahabn harus menerapkannya.

2. David Hume

David Hume (1711-1776), dia adalah orang yang menentukan seorang filosof besar Immanuel Kant menuju filsafatnya sendiri. Hume beranjak dewasa di dekat Edinburgh di Sklotlandia. Keluarganya ingin dia mengambil pelajaran hukum. Tetapi dia merasakan keengganan yang tak tertahankan terhadap apapun kecuali filsafat dan ilmu pengetahuan. Dia hidup pada zaman pencerahan pada masa yang sama dengan masa hidup para ahli pikir besar Prancis seperti Voltaire dan Rosseau. Ia juga banya k melakukan perjalanan mengelilingi Eropa menjelang akhir hayatnya. Karya utamanya adalah Sebuah Risalah tentang Watak Manusia (A Treatise of Human Nature), yang diterbitkan ketika Hume berusia 20 tahun. Tapi dia menyatakan bahwa dia mendapatkan gagasan bagi buku itu ketika dia berusia 15 tahun. Hume mengambil dunia sehari-hari sebagai titik awalnya. Hume mengusulkan untuk kembali pada pengalaman spontan kita menyangkut dunia.

Hume membebani dirinya dengan kewajiban untuk membersihkan seluruh konsep dan susunan pemikiran yang tidak jelas yang telah dikemukakan oleh para filosof lain. Menurutnya,  Tidak ada filosof yang akan dapat membawa kita ke balik pengalaman sehari-hari atau menawarkan pada kita aturan-aturan perilaku yang berbeda dari yang kita dapatkan melalui perenungan tentang kehidupan sehari-hari.

Pada masa Hume tersebar luas suatu kepercayaan kepada para malaikat. Yaitu sosok manusia dengan sayap. Menurut Hume, malaikat adalah sebuah gagasan yang rumit. Karena terdiri dari dua pengalaman yang berbeda yang sesungguhnya tidak berkaitan, tapi dikaitkan dalam imajinasi manusia. Dengan kata lain, itu adalah gagasan keliru yang harus segera ditolak.

Hume memulai dengan menetapkan bahwa manusia mempunyai dua jenis persepsi yaitu kesan dan gagasan. Kesan adalah pengindraan langsung atas realitas lahiriah. Sedangkan gagasan adalah ingatan akan kesan-kesan semacam itu. Contohnya, apabila jarimu terbakar api, kamu akan mendapatkan kesan segera. Setelah itu kamu dapat mengingat bahwa kamu terbakar. Kesan yang diingat itulah yang Hume sebut dengan gagasan. Bedanya adalah bahwa kesan itu lebih kuat dan lebih hidup daripada ingatan reflektif tentang kesan tersebut. dapat diketahui bahwa perasaan itu adalah yang asli dan bahwa gagasan/ refleksi hanyalah tiruan yang samar-samar. Kesan itulah yang merupakan penyebab langsung dari gagasan yang tersimpan di dalam pikiran. Hume menekankan bahwa kesan maupun gagasan bisa sederhana dan bisa juga rumit. Bagaimanapun, Hume menentang semua pikiran dan gagasan yang tidak dapat dilacak kaitannya dengan persepsi indra. Hume mengungkapkan bahwa pikiran adalah semacam panggung, dimana beberapa persepsi secara berurutan menampilkan diri; lewat, dan lewat lagi, menyelinap dan bercampur dengan berbagai sikap dan keadaan. Hume mengemukakan bahwa kita tidak mempunyai jati diri pribadi yang menyokong kita dibawah/dibalik persepsi-persepsi dan perasaan-perasaan yang datang dan pergi . hume menolak setiap usaha untuk membuktikan keabadian jiwa atau keberadaan Tuhan. Tapi itu bukan berarti dia menyingkirkan salah satunya, tetapi membuktikan iman keagamaan dengan akal manusia adalah omong kosong rasionalistik. Humne bukanlah seorang Kristen ataupun atheis. Melainkan agnostic. Hume hanya menerima apa yang ditangkapnya melalui indra-indranya. Dia menerima semua kemungkinan lain. Dia tidak menolak keyakinan pada ajaran Kristen dan tidak menolak kepercayaan dan keajaiban. Tapi dalam filsafat Hume, kaitan terakhir antara iman dan pengetahuan telah dipatahkan.

Kita tidak dapat menggunakan akal sebagai ukuran bagi cara kita seharusnya bertindak. Bertindak secara bertanggung jawab berarti bukan berarti menguatkan akal kita, melainkan memperdalam perasaan kita demi kesejahteraan orang lain. Menurut Hume ‘tidak bertentangan dengan akal jika aku lebih suka menghancurkan seluruh dunia daripada melukai jari tanganku.’ Atau contoh lainnya adalah bencana tsunami yang menewaskan banyak korban jiwa dan mengakibatkan banyak yang luka-luka. Maka akalku akan bilang, ‘sudah seharusnya semua orang mati kalau tertimpa bencana tsunami itu’. Tapi perasaanku mendorongku untuk menolong, atau aku akan marah jika ada yang memiliki pikiran semacam diatas tadi.

3. George Barkeley

George Barkeley (1685-1753). Dia adalah seorang uskup Irlandia dan juga seorang filosof. Barekeley adalah tokoh empiris yang konsisten. Barkeley menyatakan bahwa benda-benda duniawi itu memang seperti yang kita lihat, tapi mereka itu bukan benda-benda.

Kalau Locke percaya bahwa dunia material adalah realitas. Sebaliknya Barkeley malah mempertanyakan soal ini. menurutnya yang ada hanyalah yang kita lihat. Tetapi kita tidak dapat melihat material/materi. Kita tidak melihat benda-benda sebagai objek nyata. Beranggapan bahwa apa yang kita lihat mempunyai substansi sendiri berarti terburu-buru menarik kesimpulan. Kita sama sekali tidak mempunyai pengalaman yang dapat menjadi dasar pernyataan semacam itu. Missal, ketika kita memukul meja maka kita mendapatkan perasaan akan sesuatu yang keras, teteapi kita tidak merasakan materi actual dalam meja itu. Dengan cara yang sama, kita dapat bermimpi bahwa kita memukul sesuatu yang keras, tetapi tidak ada sesuatu ytang keras di mimpi kan? Seseorang yang dihipnotis juga dapat merasakan sesuatu seperti hagat, diongin, dll.

Barkeley percaya pada ruh. Dia beranggapan bahwa semua gagasan kita mempunyai penyebab di luar kesadaran kita, tetapi penyebab ini tidak bersifat material, melainkan spiritiual. Menurut Barkeley, jiwaku sendiri dapat menjadi penyebab gagasan-gagasanku sendiri-seperti ketika aku bermimpi-tapi hanya kehendak atau ruh lainlah yang dapat menjadi penyebab gagasan-gagasan yang membentuk dunia jasmaniah. Segala sesuatu disebabkan oleh ruh itu yang merupakan penyebab segala sesuatu di dalam segala sesuatu yang membentuk segala sesuatu.

Barkeley memikirkan Tuhan. Dia bilang kita dapat mengatakan  bahwa keberadaan Tuhan dapat dilihat jauh lebih jelas daripada kebenaran manusia. Segala sesuatu yang kita lihat dan kita rasakan adalah akibat kekuasaan Tuhan. Sebab, Tuhan hadir dekat sekali di dalam kesadaran kita, yang menyebabkan melimpahnya gagasan-gagasan dan persepsi-persepsi yang terus menerus kita ikuti. Seluruh dunia di sekeliling kita dan seluruh kehidupan kita ada dalam diri Tuhan. Dialah satu-satunya penyebab dari segala sesuatu yang ada. Kita ada hanya di dalam pikiran Tuhan. Menurut Brkeley yang kita ketahui hanyalah bahwa kita ini ruh.

4. Perbedaan Locke, Hume dan Barkeley

Setelah dipaparkan mengenai pemikiran singkat ketiga tokoh empiris di atas tadi. Maka akan terlihat beberapa perbedaan diantara ketiganya walaupun sebenarnya mereka tokoh utama empirisme. di dalam teori mereka tentang ide atau pengetahuan, mereka mengarah kepada pandangan bahwa pengalaman indrawi adalah sumber yang pasti di dalam memperoleh pengetahuan atau “ide”.

Kita lihat Locke sebagai pioner memang secara pasti menerima objek di luar sebagai sumber yang valid bagi pengetahuan kita, dengan menjatuhkan semangat Cartesian. Pandangan Locke tentang ide masih sederhana dalam semangat empirisme. Akan tetapi berbeda dengan Locke, Berkeley yang walaupun dia mempercayai apa yang dikatakan Locke dalam tataran proses, tetapi dia tetap menganggap bahwa sumber ide adalah spirit atau Tuhan, hal ini didasari karena dia tidak bisa menerima adanya subtansi materi yang menghasilkan ide, sebagaimana teori Locke. Disisi lain, setelah beberapa waktu, Hume tampil dengan lebih sekeptis, dimana dia menyetujui beberapa aspek dari keduanya dan menolak beberapa yang menurutnya ada yang salah dari keduanya, yaitu mempertanyakan ulang apa yang disebut pengetahuan itu hanya pencerapan yang sesederhana teori Locke atau Berkeley? Dia berusaha menemukan kelemahan dan menunjukkan teori baru dan argument yang lebih dalam tentang pembagian ide kedalam dua bagian yaitu kesan dan gagasan.

Perbedaan-perbedaan ini terlihat dari teori-teori mereka tentang persepsi, sensasi, impressi dalam mendapatkan ide. Hal itu jelas terlihat, ketika permasalahan persepsi telah dibahas oleh Locke, kemudian dilanjutkan Berkeley dan disempurnakan oleh Hume.[5]

3. Peran dan Permasalahan Pengalaman Indrawi

  1. Indera

Sebagaimana yang kita ketahui, pancaindera terdiri dari indera penglihatan, pendengaran, pengecap, pembau dan peraba. Kelima indera itu disebut sebagi indra luar (external senses). Umumnya kita meyakini bahwa kelima indera itu kita berhubungan dengan dunia luar. Pancaindera itu sendiri mempunyai objeknya masing-masing.

Indera menurut para filosof muslim merupakan kecakapan (daya) jiwa, yang dimiliki oleh setiap hewan (termasuk manusia) dan bukan hanya sekedar kecakapan fisik aja. Bersama dengan gerak (harakah), indera (sensasi) merupakan kecakapan jiwa manusia. Mata, misalnya dengan sel-sel saraf yang berhubungan dengan cahaya, bukan hanya mencerap bentuk benda-benda fisik yang diamatinya, melainkan juga warna mereka. Gelombang cahaya yang masuk ke retina ternyata mampu diterjemahkan oleh mata sebagai warna dan bentuk bentuk-bentuk benda. Dengan demikian objek-objek fisik yang dapat ditangkapnya dengan bantuan cahaya juga bisa menimbulkan keindahan yang luar biasa bagi siapa saja yang mengamatinya. Begitu juga dengan telinga, dengan telinga kita dapat menangkap ide-ide yang disampaikan dalam bentuk suara. Begtu juga dengan indera perasa yang mendapatkan informasi tentang rasa dari sebuah benda- misalnya makanan dan minuman. Kalau tidak ada indera perasa ini, tidak bisa dibayangkan akan munculnya pabrik-pabrik makanan seperti roti, kue,dll. Begitu juga dengan indera lainnya dan masing-masing fungsinya.

Pancaindera telah memungkinkan manusia untuk bisa mencerap berbagai dimensi dari sebuah benda yang diamatinya sehingga indera ini akan menjadi alat pengamat benda-benda fisik yang sangat canggih dan berguna sebagai sumber informasi. Itulah mengapa Empirisme menganggap indera sebagai pengetahuan yang dapat diandalkan.[6]

James E. Royce menyebut pancaindera sebagai indera-indera khusus. Mengapa disebut indra khusus? karena masing-masing mempunyai organ penerimanya sendiri dan mempunya kualitas material khusus yang sendiri menyampaikan ke kesadaran. Dalam kelompok indra khusus ini termasuk pancaindra ditambah beberapa indra lain yang walaupun tidak menyampaikan kualitas di dunia luar kepada kesadaran tetapi tetap termasuk kedalam indra khusus.

Royce mendefinisikan indra khusus sebagai suatu daya yang memungkinkan kita mengalami bagaimana kualitas suatu objek material merangsang suatu organ penerima dalam diri kita. Yang disebut sebagai indra-indra khusus adalah sebagai berikut :

  1. Penglihatan, pendengaran, pengecap, pembau
  2. Indra-indra peraba (panas, dingin, halus, kasar, dsb)
  3. Indra penggerak (berkaitan dengan gerak anggota-anggota tubuh)
  4. Indra keseimbangan (keseimbangan tubuh)
  5. Indra-indra organic (berkaitan dengan rasa sakit, mual, haus, lapar, dsb)

Selain indra-indra yang menyampaikan ke kesadaran suatu kualitas material tertentu dan yang mempunyai penerima khusus, masih ada kegiatan keindraan lain yang menuntut adanya indra dalam (internal senses). Indra dalam adalah daya pengenalan suatu objek konkret secara material melalui kualitas-kualitas terindera yang dialami melalui indra-indra khusus. Indra-indra dalam ini merupakan fungsi bagian cortex otak manusia.

Memang ada perbedaan pendapat diantara para filusuf mengenai indra dalam ini, pembedaannya adalah sebagai berikut :

  1. Indera pusat (indera pemadu)
  2. Imajinasi
  3. Ingatan
  4. Daya estimative

Indera pusat adalah daya untuk mempersepsi, membedakan dan menggabungkan pengindraan menjadi suatu kesadaran menyeluruh tentang objek yang dihadapi. Persepsi indrawi hanya mungkin terjadi berkat indra pusat atau indra pemadu. Sedangkan imajinasi adalah daya untuk menghadirkan kembali secara indrawi objek yang tidak hadir pada organ penerima. Daya itu hanya bisa memproduksi persepsi sebelumnya atau menggabung-gabungkan menjadi suatu gambaran baru. Ingatan adalah daya untuk menghadirkankembali secara indrawi objek-objek pengalaman masa lalu sebagai masa lalu. Dan daya estimative adalah daya untuk mengenali, sebelum pembelajaran dan pemahaman, perilaku yang pas berhadapan dengan sutu objek indrawi. Daya estimative inilah yang berfungsi dalam perilaku instingtif.

Sedangkan menurut Ibn Sina dan Al-Farabi ada yang disebut dengan indra bathin. Indera bathin ini terdiri dari indera bersama (al-hiss al-musytarak), khayal/ daya imajinasi retentive, daya estimasi (wahm), daya imajinasi (mutakhaliyyah), dan memori (al-hafizhah).[7]  Masing-masing penjelasannya adalah sebagai berikut :

  1. Indera bersama (al-hiss al-musytarak) adalah indra yang menyebabkan sebuah objek indrawi muncul sebagai sebuah kesatuan yang utuh dengan segala dimensinya dan tidak lagi berupa data parsial yang biasa disumbangkan oleh tiap indra lahir. Indera ini terletak di bagian depan otak.
  2. khayal/ daya imajinasi retentive adalah daya yang bisa melestarikan bentuk yang ditangkap oleh mata, suara yang ditangkap oleh telinga, dll. Indera ini juga terletak di bagian depan otak.
  3. daya estimasi (wahm) adalah indera yang dapat menilai apakah sebuah benda itu bermanfaat/ berbahaya sehingga kita dapat mengambil tindakan yang diperlukan. Baik dalam menghindarkan diri dari benda tersebut jika berbahaya, maupun mendekatinya jika bermanfaat. Maksud (intension) sebagai aspek batin dapat ditangkap oleh wahm. Wahm ini akan menimbulkan tindakan terhadap bemda yang sudah kita alami/ ketahui/ nilai. Indra ini terletak di bagian tengah otak.
  4.  daya imajinasi (mutakhaliyyah), sebagaimana yang kita tahu bahwa mata hanya dapat melihat satu bentuk dalam sebuah benda, imajinasi tidak hanya dapat mengabstraksikan bentuk-bentuk itu dari bendanya, tapi juga dapat menggabungkan menurut selera yang dikehendaki. Missal kita menggabungkan manusia dan burung yang disebut “burak”. Indra ini juga terletak di bagian tengah otak.
  5. Memori (al-hafizhah), indra ini berguna untuk melestarikan bentuk-bentuk imajiner, sebagaimana khayal untuk merekam bentuk-bentuk fisik yang ditangkap oleh indra bersama. Memori ini tidak hanya menyimpan bentuk-bentuk fisik, tetapi juga bentuk-bentuk abstrak. Indra ini terletak di bagian belakang otak.

Indera bersama (input)           Penggambar                  (proses)     pengingat (output)                Pengreka

Penganggap

Secara factual yang terjadi di pengalaman indrawi adalah dimulai dengan pelbagai jenis sinyal (gelombang cahaya, gelombang suara, interaksi kimiawi, tekanan) dikirimkan dari suatu sumber melalui macam-macam perantara (udara, cairan, benda padat). Sinyal-sinyal itu membawa pesan yang terkodifikasikan khusus untuk indera penerima yang khas untuknya. Sinyal-sinyal itu diproses oleh indera penerima yang bersangkutan dan dikirim ke otak untuk dikodifikasikan atau diurai. Hasil dari proses pengalaman otak adalah suatu pengalaman indrawi tertentu. Setiap pengalaman indrawi mempunyai aspek fisik, fisiologis, dan psikologis. Maka, pengalaman tersebut tidak dapat dimengerti secara memadai kalau aspek-aspek tersebut tidak seluruhnya diperhitungkan.

  1. Memaparkan dan Menjelaskan

Memaparkan dan menjelaskan dalam dunia inderawi merupakan hal yang berbeda. Untuk menngetahui perbedaan itu adalah menyadari bahwa objek pengalaman indrawi dapat ditinjau dari dua sudut pandang, yakni :

  1. Sejauh objek itu berhubungan dengan kita.
  2. Sejauh objek itu berhubungan satu sama lain.

Yang pertama meninjau objek persis sebagaimana yang dialami, yakni persis sebagaimana objek itu menghadirkan diri pada kesadaran indrawi kita. Dua konsekuensi mengikuti sudut pandang ini, yakni,

  1. Objek itu hadir pada kesadaran kita dalam kondisi, batas-batas dan penentuan lain yang dilakukan oleh alat pencerapan indrawi kita,
  2. Karena hal itu, objek itu dapat kita imajinasikan . sudut pandang kedua adalah melihat objek-objek pengalaman indrawi dalam diri mereka sendiri lepas dari cara bagaimana kita mengalaminya. Dari sudut pandang ini maka memunculkan dua konsekuensi :
  3. Objek-objek itu ditinjau bukan dalam kondisi dan batas-batas yang ditentukan oleh alat pencerapan inderawi kita, tetapi sebagai sesuatu yang mengatasinya.
  4. Oleh karenanya, hal yang dapat secara langsung kita persepsi secara inderawi ataupun kita imajinasikan, tetapi harus kita mengerti dengan akal budi.

Ketika kita memaparkan suatu pengalaman indrawi, kita meninjau objek yang kita paparkan sebagaimana kita alami. Kita berurusan dengan objek sejauh berhubungan dengan kita. Berbeda dengan penjelasan tentang suatu pengalaman inderawi yang tidak harus mengandalkan hal it. Apa yang menjelaskan suatu pengalaman inderawi tak harus sendiri bisa dialami secara inderaei. Maka, penjelasan seperti itu biasanya tidak dapat menjadi menjadi bagian dari pemaparan apa yang dialami. Dalam kasus seperti itu kita tidak secara langsung sadar akan entitas-entitas penjelas walaupun entitas tersebut nyata. Entitas penjelas merupakan hubungan benda atau hal satu dengan yang lainnya yang disimpulkan (inferred) dan tidak secara langsung diketahui. Entitas tersebut juga hanya dapat dibuktikan kebenarannya secara tak langsung.

Untuk memeahami peran indra dalam kegiatan manusia mengetahui adalah dengan mencoba memaparkan pengalaman indrawi. Paparan seperti itu akan memuat suatu pemaparan baik tentang apa yang dicerap dengan indra (data indra) maupun tentang kegiatan mengindra (data kesadaran). Contohnya adalah sebagai berikut : saat ini saya melihat keluarnya huruf-huruf yang berwarna abu-abu membentuk kata dan kalimat pada layar monitor computer saya, mengiringi ketikan pada tuts huruf-huruf di atas keyboard. Sentuhan jari jemari saya di atas keyboard menimbulkan bunyi klik-klik-klik yang terdengan di telinga saya. Sementara itu saya juga mendengar suara music dari kamar sebelah dan sedikit merasakan gatal pada mata kaki kiri saya.

Kalau kita perhatikan dalam paparan di atas, tampak bahwa dalam paparan tentang sebuah pengalaman indrawi konsep-konsep abstrak sudah dipakai. Sebutan yang dipakai (seperti huruf, warna, kata, kalimat, layar monitor, computer, bunyi, music, dsb.) adalah istilah-istilah umum dan dengan demikian sudah mengatasi pengalaman khusus tertentu yang mau dipaparkan serta memberi kesaksian tentang sesuatu yang lebih dari sekadar mengungkapkan rangsangan indrawi yang sedang terjadi. Jadi, sebuah pemaparan adalah suatu kegiatan pikiran, suatu kegiatan memahami sajian indrawi yang berhubungan dengan subjek pengindra.

Pemaparan hanyalah awal dari proses pemahaman. Tahap yang selanjutnya setelah itu adalah penjelasan. Penjelasan ini akan diperlukan ketika muncul pertanyaan-pertanyaan tentang apa yang telah dipaparkan. Misalnya kembali kepada contoh yang tadi, saya akan bertanya pada diri saya sendiri mengapa huruf yang keluar dari monitor itu berwarna abu-abu dan bukan dengan warna lain seperti merah dan biru, misalnya. Saya juga akan bertanya apakah saya saja yang melihat demikian, atau setiap orang yang matanya normal juga akan melihat demikikan. Dari sini jelas bahwa saya tidak hanya ingin mengetahui mengapa huruf-huruf itu berwarna abu-abu di mata saya, tapi saya juga ingin tahu fakta warna abu-abu itu sendiri. Apa syaratnya suatu objek dapat berwarna abu-abu dan bukan dengan warna yang lain. Dengan kata lain saya ingin mengetahui objek itu pada dirinya dan tidak hanya sejauh itu tampak bagi saya. Saya juga mencari penjelasan objektif dari sudut ilmu fisika, kimia, biologi, dan psikologi atas gejala penglihatan kewarnaan (chromatis) yang saya alami.

3. Mediasi dan Inferensi

  1. Mediasi

Kata “mediasi” secara harfiah berarti “keperantaraan.”. kata ini berasal dari akar kata bahasa Latin medium yang berarti “apa yang ada di tengah”. Dalam filsafat, “mediasi” berarti apa yang menghubungkan dua hal. Yang berada di antara dua hal. Lawan bermediasi adalah tanpa mediasi atau langsung. Filsafat skolastik membagi mediasi menjadi tiga jenis :

  1. Medium quod, yakni sesuatu yang sendiri diketahui dan dalam mengetahui sesuatu itu sesuatu yang lain juga diketahui. Contoh yang biasa diberikan mediasi ini adalah premis-premis dalam silogisme. Karena silogisme ini membawa kita ke pengetahuan silogisme. Contoh lain adalah lampu lalu lintas. Dengan mengetahui bahwa lampu lalu lintas warna merah itu tanda harus berhenti, maka saya saya mengetahui bahwa saya harus menghentikan kendaraan saya.
  2. Medium quo, yakni sesuatu yang sendiri tidak disadari, tetapi melaluinya sesuatu yang lain diketahui. Contohnya adalah lensa kacamata yang kita pakai. Memalui kacamata yang kita pakai, kita melihat benda-benda di sekitar kita, tetapi kacamata itu sendiri tidak secara langsung kita sadari.
  3. Medium in quo, yakni sesuatu yang tidak disadari secara langsung dan yang di dalamnya diketahui sesuatu yang lain. Contohnya adalah kaca spion di mobil. Sopir mobil melihat kendaraan di belakang dan hal-hal lain di sekitarnya di dalam kaca spion yang sendiri tidak secara langsung ia sadari.

Dari ketiga mediasi di atas, hanya satu mediasi yang kita sadari, yaitu medium quod. Sedangkan dua medium lainnya yang berfungsi dalam kegiatan mengetahui sesuatu, tapi tanpa kita sadari secara langsung. Data indrawi yang kita peroleh dari interaksi kita dengan suatu objek dan konsep yang kita pakai untuk menyebutnya, merupakan bentuk mediasi yang tidak secara langsung disadari. Yang secara langsung kita sadari adalah objek itu sendiri.

  1. Inferensi                                                                                                                                                                                                                                                               

Secara umum, inferensi adalah proses penalaran dari apa yang sudah diketahui ke apa yang sampai sekarang belum diketahui, suatu gerak pemikiran dari premis-premis ke kesimpulan. Ada tiga jenis inferensi yakni, deduksi, induksi, dan abduksi. Deduksi adalah proses inferensi atau penyimpulan yang apabila premis-premisnya benar, kesimpulannya mesti benar. Kesimpulannya bersifat niscaya dalam hubungan dengan premis-premisnya. Misalnya semua mangga dalam karung itu adalah mangga jenis manalagi. Mangga ini diambil dari karung itu. Maka, mangga ini adalah mangga jenis manalagi. Sedangkan kesimpulan yang ditarik dalam abduksi dan induksi tidak pernah bersifat niscaya. Paling banter hanya bersifat barangkali. Induksi adalah bentuk inferensi yang membentuk suatu hipotesis sedemikian rupa sehingga apabila hipotesis itu benar, maka premis-premis dari mana inferensi itu ditarik juga dengan sendirinya benar. Misalnya, mangga ini diambil dari karung itu. Mangga ini adalah mangga jenis manalagi. Maka, barangkali semua mangga dalam karung itu adalah mangga jenis manalagi. Abduksi adalah bentuk inferensi yang menguji hipotesis dengan menarik konsekuensi sebagai sebuah prediksi dan kemudian mengujinya dalam pengalaman. Contoh, semua mangga dalam karung itu adalah mangga jenis manalagi. Mangga-mangga ini adalah mangga jenis manalagi. Maka ada kemungkinan bahwa mangga-mangga ini diambil dari karung itu.

Inferensi selalu ditarik secara sadar. Aturan bagi validitas argument deduktif dan norma untuk hipotesis yang terjamin atau induksi yang benar, tidak menetapkan bagaimana kita mesti atau secara niscaya berpikir, tetapi hanya bagaimana seharusnya berpikir. Maka, inferensi selalu dilakukan secara sadar dan tidak terjadi secara otomatis.

4. Realisme Langsung yang Bermediasi

Adanya mediasi dalam proses mengetahui baru disadari ketika menjelaskan penyebab terjadinya pengalaman indrawi. Dengan kata lain, berkenaan dengan peran indra dalam proses manusia mengetahui, kita menganut paham realisme langsung yang bermediasi (direct mediate realism).

Kita menganut paham realisme, karena kita meyakini bahwa objek fisik atau benda yang kita alami secara indrawi itu real atau nyata-nyata ada (bukan suatu hasil imajinasi kita sendiri) dan adanya tidak tergantung dari kita atau siapa pun yang mengalaminya. Objek fisik itu dalam arti tertentu kita temukan dan bukan kita ciptakan. Posisi ini berbeda dengan paham idealisme, yang menganggap bahwa yang sungguh-sungguh real atau nyata itu ide, roh atau sesuatu yang nirfisik. Atau, sebagaimana dirumuskan George Berkeley, adanya sesuatu adalah untuk dipersepsikan (esse est percipi). Adanya sesuatu selalu tergantung pada subjek yang mempersepsikannya.

Dalam paham realisme masih bisa dibedakan antara realisme langsung dan realisme tak langsung. Realisme langsung berpendapat bahwa yang kita sadari secara langsung, atau yang kita cerap secara indrawi dan kita ketahui adalah objek fisik itu sendiri dan bukan hanya gagasan atau representasi kita tentang objek tersebut. Kehadiran objek fisik tidak kita inferensikan dari gejala lain yang langsung kita alami dan ketahui. Sedangkan menurut realisme tak langsung kita tidak secara langsung mengetahui objek fisik sendiri, tetapi hanya melalui representasi kita tentang objek tersebut (representasional) atau hanya melalui gejala yang menampakkan diri kepada kita (fenomenalisme). Objek fisik atau benda pada dirinya sendiri tak dapat kita ketahui secara langsung.

Realisme langsung yang kita ikuti pahamnya adalah realisme langsung yang menerima adanya mediasi. Artinya, menerima bahwa dalam memberikan penjelasan tentang apa yang dialami secara indrawi, diterima adanya rangkaian penyebaban, baik fisik, fisiologis, maupun psikologis dari sisi intensionalitas subjek. Hal ini berbeda dengan apa yang kita sebut realisme naif. Menurut paham ini, objek fisik bukan hanya mempunyai keberadaan sendiri lepas dari kegiatan pengindraan kita, tetapi adanya pada dirinya sendiri adalah persis sama dengan objek  yang secara langsung saya alami, secara indrawi pada saat dan tempat tertentu. Maksudnya : warna, bau, rasa, bentuk, ukuran, dan sebagainya, dari benda tersebut pada dirinya memang sama persis dengan apa yang secara langsung saya tangkap dengan indra saya. Paham realisme naif jelas tidak memadai, sebab mengabaikan perbedaan antara apa yang tampak pada si pengamat dan apa yang ada dalam kenyataan sesungguhnya. Paham ini mengabaikan kenyataan bahwa bisa terjadi ketidakcocokan antara keduanya, dan bahwa dalam banyak hal ciri-ciri yang kita tangkap. Misalnya bagi orang yang sedang sakit demam dan badannya panas, air yang sebenarnya biasa saja akan terasa dingin. Daun yang keliatan hijau di siang jari akan kelihatan hitam di malam hari. Untuk mengatasi kelemahan realism naïf , beberapa filusuf menganut paham realism kritis. Akan tetapi realism kritis terbagi menjadi dua macam, yakni realism kritis bersifat formal dan realism kritis yang bersifat virtual.

Realism kritis yang bersifat formal berpendapat bahwa kualitas indrawi, baik yang primer maupun sekunder, secara formal (sebagaimana yang dipersepsikan ) ada dalam objek fisik yang dicirikan kualitas tersebut . subjek yang mempersepsikannya tidak menambah dan mengurangi apapun, dan selalu mencatat apa adanya. Misalnya, warna merah yang kita lihat pada apel memang secara objektif ada pada objek tersebut. apel pada dirinya sendiri adalah merah bagi siapapun yang melihatnya. Kalau dibawah sinar lampu neon yang kebiruan warna apel itu tidak lagi kelihatan merah tetapi jingga, tetap tidak menyangkal kenyataan bahwa warna merah secara formal objektif ada “dalam” apel itu. Posisi ini sudah lebih maju dari realiusme naif karena ia tidak mengabaikan kemungkinan adanya ketidakcocokkan antara apa yang langsung tampak dan apa yang sesungguhnya ada pada objek itu sendiri. Namun sebenarnya posisi ini masih mengandung kelemahan yang membuatnya tidak memadai untuk suatu teori pengetahuan. Kelemahannya adalah :

1.  posisi ini mengandaikan bahwa untuk suatu kualitas indrawi dapat disebut objektif ia harus terdapat dalam suatu objek fisik, persis sama dengan yang tampak sebagai cirri objek itu sebagaimana dialami.ini berarti mengandaikan mengetahui sebagai memandang dan melaporkan apa yang dilihat. Subjek penahu dianggap pasif.

2. posisi ini juga tidak memadai karena dengan demikian memahami objektivitas pengetahuan sebagai apa yang secara empiris terberi. Pemahaman ini terlalu mempersempit pengertian objektivitas pengetahuan, karena menyamakannya dengan objektivitas fisik.

Sebaliknya realisme virtual sekurang-kurangnya kualitas sekunder (misalnya warna, bau, bunyi, halus-kasar dan panas-dinginnya sesuatu tidak secara formal “dalam”objek fisik yang dicirikan olehnya, tetapi hanya secara virtual. Maksudnya, objek fisik itu mempunyai daya dalam dirinya untuk menyebabkan dalam diri kita-tentu saja dibawah persyaratan yang sesuai-pengalaman akan objek fisik sebagai yang memiliki kualitas sekunder tersebut. misalnya apel, asal penglihatan kita normal dan di dalam sinar terang matahari biasa, apel  mempunyai daya untuk terlihat merah dalam penglihatan kita. Apakah daya itu, akhirnya dialami demikian atau tidak, masih tergantung dari berfungsi normal tidaknya indra penglihatan kita dan dari terpenuhi tidaknya persyaratan lain, seperti cahaya yang sesuai. Hanya kualitas primer (keluasan, bentuk, kepadatan, gerak, dan diam), yang secara tidak langsung mendasari objektivitas kualitas sekunder, dapat dikatakan secara formal ada dalam objek fisik.

Realisme kritis ini melihat bahwa tidak semua kualitas indrawi secara formal ada dalam objek fisik. Ada kualitas indrawi (kualitas sekunder) yang lebih banyak tergantung dari subjek pengamat. Realism ini juga sudah secara lebih tegas membedakan antara pemaparan pengalaman indrawi dan penjelasannya. Namun realism ini juga msih memiliki kelemahan yang menjadikannya tidak memadai sebagai teori pengetahuan.

1. pembedaan kualitas primer dan kualitas sekunder, yang diinspirasikan oleh pemikiran John Locke, seperti telah dengan tepat dikritik oleh George Barkeley, merupakan pembedaan yang tidak tahan uji, sebab pengalaman indrawi kita akan kualitas primer selalu bergantung pada pengalaman indrawi kita akan kualitas sekunder. Kalau gagasan merupakan modifikasi subjektif, maka baik kualitas sekunder maupun kualitas primer adalah subjektif (Barkeley). Kalau tidak, maka baik kualitas primer maupun kualitas sekunder adalah sama-sama objektif  (sebagaimana dipahami oleh Realisme Kritis Formal).

2. sama seperti pada Realisme Kritis Formal, Realisme Kritis Virtual juga memahami objektivitas pengetahuan sebagai apa yang secara empiris terberi. Ia juga secara keliru memahami kegiatan mengetahui sebagai memandang sesuatu serta melaporkanya secara objektif dan impersonal.

Objektivitas pengetahuan akan lebih tepat kalau dimengerti sebagai apa yang dapat secara cerdik diapahami dan secara rasional ditegaskan. Dalam pemahaman realism langsung yang bermediasi, baik kualitas sekunder maupun kualitas primer adalah aspek-aspek objek fisik yang secara langsung kita sadari sejauh objek itu berhubungan dengan kita. Tetapi keduanya tersaji pada kesadaran kita sebagai cirri-ciri yang dimiliki objek fisik tersebut. jika kita ingin menjelaskan bagaimana kadang-kadang objek fisik hanya tampaknya saja memiliki ciri-ciri yang dalam kenyataan tidak ada pada objek tersebut, maka kita mengemukakan entitas teoritis seperti “gagasan” atau “data indrawi” sebagai mediasi. Dengan dan melalui madiasi itu kita dapat menjelaskan mengapa kita mengalami apa yang kita alami secara begini atau begitu.

BAB III

PENUTUP

1. Kesimpulan

Sebagaimana yang dikemukakan oleh J.Sudarminta dalam bukunya Epistemologi Dasar Pengantar Filsafat Pengetahuan bahwa pengalaman perceptual dalam kenyataan merupakan suatu hal yang kompleks. Mungkin mudah saja untuk mengalami pengalaman indrawi, namun untuk menjelaskan tentang pengalaman indrawi itu sendiri adalah hal yang sulit. Kadang kita tidak menyadari bahwa sebenarnya indra yang kita punya itu bukan sekedar panca indra saja, akan tetrapi ada indra-indra internal yang mengumpulkan data-data indrawi dari panca indra menjadi sebuah persepsi dan pengetahuan. Akan tetapi biasanya kita tidak menyadari proses pengindraan itu karena yang kita sadari secara langsung adalah objeknya. Seperti saat menyetir mobil kita melihat lewat kaca spion untuk melihat kendaraan-kendaraan di belakang mobil kita. Yang kita perhatikan adalah mobil-mobil yang berada di belakang, bukan kaca spion yang menjadi mediasi untuk mata kita untuk melihat kendaraan lain di belakang.

Permasalahan mengenai pengalaman indrawi ini berhubungan dengan realisme yang meyakini bahwa objek di luar itu merupakan realitas yang bebas dari persepsi. berlawanan dengan pemikiran idelalis yang menganggap bahwa realitas itu adalah ide. Realisme memberikan argumentasi-argumentasinya untuk meyakinkan bahwa objek di luar memang merupakan realitas. Meski realisme sendiri sebenarnya terbagi-bagi menjadi yang naif dan yang kritis. Dan kedua realisme inipun memiliki cara berpikir yang berbeda soal realitas objek yang ditangkap oleh indra kita. Di sisi lain realism pun masih punya kelemahan-kelemahan dalam pemikirannya. Baik yang naif maupun kritis. Inilah yang membuktikan bahwa menjelaskan tentang pengalaman indrawi adalah suatu hal yang rumit. Untuk mencari pengetahuan yang pasti dan tidak diragukan oleh siapapun di dunia ini memang merupakan persoalan yang paling sulit.


 Backer, Anton. Metodologi Penelitian Filsafat hal. 21

Lubis, Ahyar Yusuf. Epistemologi Fundasional, Hal. 51

 Muthahhari, Murtadha. Pengantar Epistemologi Islam, hal. 126

Tafsir, Ahmad. Filsafat Umum, hal. 24

Kartanegara, Mulyadhi. Integrasi Ilmu

Kartanegara, Mulyadhi. Menyibak Tirai Kejahilan, Pengantar Epistemologi Islam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s